Interaksi Sosial Anak Tunarungu dalam Sekolah Umum di TK Syafina Sidotopo Wetan Surabaya

Authors

  • Isnainia Solicha

DOI:

https://doi.org/10.33086/cej.v1i2.1340

Keywords:

Interaksi sosial, anak, tunarungu, tunawicara

Abstract

Anak tunarungu adalah anak yang kehilangan kemampuan dalam pendengaran. Kehilangan kemampuan ini apabila terjadi sejak dini akan secara tidak langsung juga mempengaruhi kemampuan berbicaranya. Sedangkan interaksi sosial sangatlah memerlukan komunikasi di dalamnya. Apabila anak tunarungu kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi pasti akan kehilangan juga kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Salah satu sekolah umum di daerah penulis yaitu, TK Syafina menerima anak berkebutuhan khusus, yaitu anak tunarungu. Tidak adanya guru pebimbing khusus yang disediakan oleh sekolah sangat menghambat anak tunarungu dalam kegiatan belajar. Dalam penelitian ini menggunakan fenomenologi hermeneutik. Fokus penulis yaitu, perilaku anak tunarungu di kelas, interaksi sosial anak tunarungu dengan teman sebayanya, guru kelas, dan guru pendamping kelas. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat ditarik kesimpulan bentuk perilaku anak tunarungu di kelas menyendiri, pendiam, mudah marah, dan mandiri. Interaksi sosial dengan guru kelas dan guru pendamping kelas terjadi interaksi yang cukup baik, namun terkadang guru kelas dan guru pendamping kelas kurang memahami maksud perkataan anak. Interaksi sosial anak tunarungu dengan anak normal lainnya terjadi cukup baik dengan ditunjukkan mereka saling berbagi, namun terkadang anak tunarungu lebih memilih menyendiri daripada bermain bersama dengan anak normal.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abu, A. (2002). Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Alimin, Z. (2016). Anak Berkebutuhan Khusus. Modul 1. 1-12.

Edja, S. & Dardjo, S. (1995). Bina Bicara, Persepsi Bunyi dan Irama. Bandung: Depdikbud.

Edja, S. (2005). Pendidikan Bahasa Bagi Anak Gangguan Pendengaran dalam Keluarga. Jakarta: Depdiknas.

Fitriyah, Fifi Khoirul. (2019). Pengaruh Permainan Tradisional Gobak Sodor dalam Bimbingan Kelompok terhadap Peningkatan Interaksi Sosial Anak Autis. Education and Human Development Journal, 5(1), 13-20. https://doi.org/10.33086/ehdj.v5i1.1293

Ilahi, M. T. (2013). Pendidikan Inklusif: Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Khotimah, Luluk. (2019). Interaksi Sosial Anak Tunarungu di Sekolah Study Kasus di TK Alvenver Surabaya.Skripsi. UIN Sunan Ampel Surabaya.

Lelyana, Margaretha L. S. (2017). Interaksi Sosial Anak Tunarungu dan Anak Tunarungu dengan “Anak Dengar”.Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Moeleong, J Lexy. (2007).Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mufti, S. & Soemargo, S. (1984). Pendidikan Anak Tunarungu. Jakarta: Depdikbud.

Sardjono. (2005). Terapi Wicara. Jakarta: Depdiknas.

Sugiyono. (2009). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:Alfabeta.

Sutjihati, S. (2006). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.

Syaputra, Mura S. (2014). Persepsi Warga Sekolah Terhadap Interaksi Sosial Siswa Tunarungu di SDN Gerantung Praya Tengah.Jurnal Pendidikan Khusus.

Published

2019-12-30

How to Cite

Solicha, I. . (2019). Interaksi Sosial Anak Tunarungu dalam Sekolah Umum di TK Syafina Sidotopo Wetan Surabaya. Child Education Journal, 1(2), 78-87. https://doi.org/10.33086/cej.v1i2.1340